jump to navigation

pribadi kaffah (menyeluruh) January 22, 2011

Posted by catatanraufmendunia in pengembangan diri.
trackback

Berusaha dan berbangga lah bila kita  terus menjadi pribadi-pribadi yang setiap langkahnya dipenuhi dengan jejak kebaikan, kalimat yang yang teruntai dari lisan berisi dengan hikmah dan ilmu. Bukan sekedar berbicara yang kosong tanpa isi.

Berbahagialah apabila kehidupan kita di isi dengan ilmu yang penuh manfaat, kepribadian yang baik, santun, lurus, dan bisa menjadi panutan. Hingga kita mungkin bisa menjadi teladan sehingga mampu memberi perubahan yang bukan sekedar positif saja, akan tetapi perubahan yang mampu merubah segala hal yang tidak baik menjadi baik, kelemahan menjadi kekuatan, kemiskinan menjadi kesejahteraan, dan kekurangan menjadi kelebihan.

Lalu dimana kita mencari yang seperti itu? jawabannya ada di dalam diri kita, “asalkan” kita menstimulisasi perubahan dalam diri dan mendayaupayakan untuk melakukan perombakan secara internal dan eksternal terhadap pribadi masing-masing, sehingga kita menjadi pribadi yang kaffah (menyeluruh).

Dalam Islam, Allah SWT dan Rosulluwloh SAW menghimbau umatnya untuk menjadi muslim yang kaffah. Ini bisa dijelaskan sebagai proses daya dan upaya seorang hamba Allah SWT untuk mengoptimalisasikan dirinya terhadap tuntunan yang sudah diberikan dan digariskan sesuai dengan ajaran islam yang sebenar-benarnya.

Bila kita memang dihimabu seperti itu, apakah kita tetap ingin menjadi seorang muslim yang “setengah-setengah”?. Mungkin kita menjalankan sholat 5 waktu, tapi kita mengabaikan zakat. Atau mungkin kita tekun berpuasa sunat, tapi kita melupakan kewajiban kita untuk membaca al-qur’an (mengaji)?.

Mudah-mudahan kita tidak tergolong pribadi muslim yang “setengah-setengah”. Untuk itulah, pengaplikasian kata kaffah dalam islam seharusnya bisa menjadi sarana refleksi dan cerminan yang harus kita jalankan.

Misalnya saja, apabila kita menjadi seorang mahasiswa, belajar dan tuntutlah ilmu secara kaffah dengan cara masuk kelas, mendengarkan dosen dengan seksama, belajar dengan sungguh-sungguh, dsb.

Begitu juga apabila kita menjadi seorang anak. Hendaknya kita memposisikan diri terhadap tugas dan kewajiban kita antara orang tua dan anak secara kaffah, sehingga jalinan antara anak dan orang tua berjalan dengan baik. Dan masih banyak contoh-contoh yang lainnya.

Menjadi pribadi ini bukanlah datang begitu saja dan mudah untuk bisa mengaplikasikannya. Hal seperti ini perlu proses dan latihan yang terus menerus. Untuk itulah kita dituntut untuk mengusahakan hal-hal yang terbaik setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, ataupun tahun dalam pelaksanaan untuk menjadi pribadi yang kaffah. Evaluasi diri setiap hari juga dibutuhkan, ini agar menjadi life balancing check yang tepat dan terorganisir.

hanya satu kata yang bisa mewakili diri kita agar bisa menjadi pribadi yang kaffah, yaitu memulai yang terbaik, dari yang terbaik, dan untuk yang terbaik dalam hidup kita tersebut.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: